Jumat, 22 Februari 2013

Ilmu Asbabul Wurud


Pendahuluan
Asbabul wurud mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka memahami suatu hadits, sebab biasanya hadits yang disabdakan Nabi SAW.bersifat kasuistik, cultural, temporer oleh karenanya, memperhatikan konteks historisitas munculnya hadits sangat penting, karena paling tidak akan dapat menghindarkan kesalapahaman dalam menangkap maksud suatu hadits.      
Karena pengetahuan tentang hal itu dapat menolong dalam memehami ma’na hadits secara sempurna. Ibnu Taimiyah berkata:” mengetahui sebab itu menolong dalam memahamkan al hadits dan ayat. Sebab mengetahui sebab itu dapat mengetahui musabbab (akibat)[1].     
Sebagaian ulama berpendapat bahwa sebab-sebab latar belakang dan sejarah dikeluarkannya hadits itu sudah tercakup dalam pembahasan ilmu tarikh, karena itu tidak perlu dijadikan ilmu yang berdiri sendiri akan tetapi karena ilmu ini mempunyai sifat-sifat yang khusus yang tidak tercakup dalam ilmu tarikh dan mempunyai faedah yang besar sekali sehingga dalam perkembangannya kebanyakan muhaditsin menjadikan asbabul wurud sebagai suatu ilmu tersendiri sebagai cabang ilmu hadits
  1. Difenisi          
Yang kata asbab adalah jama’ dari sabab. Menurut ahli bahasa di artikan dengan “al habl”(tali), saluran, yang artinya dijelaskan sebagai:”segala yang menghubungkan satu benda dengan benda lainnya”.         
Menurut istilah adalah:    
كل شيء يتوصل به إليه غايته
“ segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”.       
Sedangkan kata wurud bias berarti sampai, muncul, dan mengalir, seperti
الماء الذي يورد
“air yang memancar, atau air yang mengalir”    .
 Dalam pengertian yang lebih luas, al suyuthi merumuskan pengertian asbab wurud hadits dengan” seuatu yang membatasi arti suatu hadits, baik berkaitan dengan pengertia umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, dinasakhkan dan seterusnya” atau,” suatu arti yang dimaksud oleh sebuah hadits saat kemunculannya[2].   
Dengan demikain para ulama telah memudahkan bagi para mustambil mengistimbat hukum-hukum syara dari dalil-dalilnya maka ilmu asbab wurud hadits, yaitu:
علم يهرف به السبب الذى وردلأجله الحريث والزمان الي جاء فيه
“ ilmu yang menerangkan sebab-sebab nabi yang menurunkan sabdanya dan masa-masanya nabi menurunkan itu”[3].
B.  Faidah- faidah ilmu asbab wurud hadits
Urgensi asbab wurud terhadap hadits, sebagai salah satu jalan memahami kandungan hadis, sama halnya dengan urgensi asbab nuzul al Qur’an terhadap al Qur’an. Ini terlihat dari beberapa faidahnya[4], antara lain:
1.              Untuk menolong, memahami dan menafsirkan al hadits. Sebab sebagaiman  diketahui bahwa pengetahuan tentang sebab-sebab terjadinya sesuatu itu merupakan sarana nuntuk mengetahui musabbab
(akibat) yang di timbulkannya.
2.              sebagaimana diketahui bahwa lafadh nash itu kadang-kadang dilukis dalam kata-kata yang bersifat umum, sehingga untuk mengambil kandungan isinya memerlukan dalil yang mentakhsishkannya. Akan tetapi dengan diketahui sebab-sebab lahirnya nash itu, maka takhshish yang menggunakan selain sebab, harus disingkirkan. Sebab memasukkan takhshish yang berbenbtuk sebab ini adalah qath’iy.  
3.              Untuk mengetahui hikmah-hikmah ketetapan syari’at (hukum).
4.              Untuk mentakhshishkan hukum, bagi orang yang berpedoman qaidah ushul fiqh “al ibratu bikhushushi’s sabab”(mengambil suatu ibarat itu hendaknmya dari sebab-sebab yang khushush)[5].        



C.Cara-cara mengetahui sebab-sebab lahirnya hadits
Cara-cara untuk mengetahui sebab-sebab lahirnya hadits itu hanya dengan jalan riwayat saja. Karena tidak ada jalan bagi logika. Menurut penelitian al Bulqiny, bahwa sebab-sebab lahirnya hadits, yaitu:
Ada sebab yang sudah tercantum di dalam hadits itu sendiri.
Contoh, hadits dari Abu Dawud yang tercantum dalam kitab sunannya, yang di riwayatkan oleh abu sa’id al Khudry. Kata abu sa’id:
انه قيل لرسول الله صلى الله عليهوسلم اتزضأمنبئر بضاعة,وهى بئر يطرح فيه الحيض,ولحم الكلب والنتن فقال:الماء طهورلاينجسه شيء
         “ bahwa belaiu pernah di Tanyakan oleh seseoarang tentang perbuatan yang di lakukan Rasulullah saw: “apakah tuan mengambil air wadhu’ dari sumur budla’ah, yakni sumur yang dituangi darag, daging anjing dan barabg-barang busuk? Jawab Rasulullah saw:” air itu suci, tak ada sesuatu yang menjadikannya najis”.

  1. Ada sebab yang tidak tercantum di dalam hadits sendiri, tetapi tercantum dalam di hadits lain.
Contoh, dari hadits muttafaq aliah tentang niat dan hijrah, yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a:
ومن كانت هجرته لديا يصيبها أو امرأة ينكحهافهجرته إلى ما هاجرإليه
“………barang siapa yang hijrah karena untuk mendapatkan keduniaan atau perempuan yang bakal di kawininya, maka hijrahnya itu hanya kepada apa yang dihijrahkannya saja”
Asbabu’l wurud dari hadits tersebut diatas, ditemukan pada hadits yang ditakhrikan oleh At Thabarany yang bersanad tsiqah dari ibnu Mas’ud r.a, ujarnya:
كان بيننا رجل خطب إمرأةيقال لها(أم قيس),فأبت ان يتزوجهاحتى يهاجر,فهاجرفتزوجها.كنانسميه(مهاجرأم قيس)
“ konon pada jam’ah kami terdapat seorang laki-laki yang melamar  seorang perempuan yang bernama ummu Qais. Tetapi perempuan itu menolak untuk dikawininya, kalau laki-laki pelamar tersebit enggan berhijrah ke Masdinah. Maka ia lalu hijrah dan kemudian memgawininya. Maka namai laki-laki itu, muhajir qais”[6].
Menurut As-suyuthi ada tiga metode dalam mengetahui asbabul wurud:
  1. Dengan mengetahui sebab yang berupa ayat Al-Quran.
  2. Sebab yang berupa hadits itu sendiri.
  3. Sebab yang berupa sesuatu yang berkaitan dengan para pendengar dikalangan sahabat[7].
Asbabul Wurud ditentukan oleh beberapa hal : (1) Ada ayat al-Qur’an yang perlu diterjemahkan Rasulullah. Fungsi hadits sebagai Tafsirul Qur’an bis Sunnah). (2) Ada matan hadits yang masih perlu dijelaskan oleh Rasulullah. Hadits yang dijelaskan itu merupakan sababul wurud dari hadits berikutnya. (3) Ada peristiwa yang timbul yang perlu dijelaskan oleh Rasulullah. (4) Ada masalah atau pertanyaan dari para sahabat.

D.    Perintis ilmu asbab wurud hadits dan kitab-kitabnya
Perintis ilmu asbab wurud hadits ialam Abu Hamid bin Kaznah al Jubary. Kemudian di susul oleh Abu Hafsh ‘Umar bin Muhammad bin Raja’I Al Ukbury (380-458 H). ia adalah salah seorang guru Abu Yahya Muhammad Bin Al Husain Al Farra’ Al Hanbal dan seorang murid dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Al muhaddits As Sayyid Ibrahim bin Muhammad bin Kamaluddin yang terkenal dengan gelar ibnu hamzah al Husainy(1054-1120 H) mengarang kitab asbab wurud hadits yang di beri nama al bayan wat ta’rif asbabil wurudil haditsisy syarif. Kitab yang di susun secara al fabetis ini di cetak pada tahun 1329 H. di halab dalam 2 juz besar. [8] As-Suyuthi – karyanya berjudul “al-Muma’ fi Asb al-hadits”[9]


Penutup

Ilmu Asbab Wurud al-Hadis adalah cabang ilmu hadis yang menerangkan sebab-sebab nabi Muhammad SAW menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi munuturkan itu . As-Suyuti menuturkan bahwa pengertian dari ilmu ini adalah sesuatu yang membatasi arti suatu hadis, baik berkaitan arti umum atau arti khusus, mutlaq atau muqoyyat, dinasakhkan dan seterusnya, atau suatu arti yang dimaksud sebuah hadis saat kemunculannya Dari pengerian diatas dapat dibawa pada sebuah pengertian bahwa ilmu Asbab wurud al-hadis adalah ilmu yang membicarakan sebab-sebab, atau kejadian yang melatar belakangi nabi Muhammad mengeluarkanhadis. Menurut As-suyuthi ada tiga metode dalam mengetahui asbabul wurud
  1. Dengan mengetahui sebab yang berupa ayat Al-Quran.
  2. Sebab yang berupa hadits itu sendiri.
  3. Sebab yang berupa sesuatu yang berkaitan dengan para pendengar dikalangan sahabat.                                                                                                                 
Al muhaddits As Sayyid Ibrahim bin Muhammad bin Kamaluddin yang terkenal dengan gelar ibnu hamzah al Husainy(1054-1120 H) mengarang kitab asbab wurud hadits yang di beri nama al bayan wat ta’rif asbabil wurudil haditsisy syarif. Kitab yang di susun secara al fabetis ini di cetak pada tahun 1329 H. di halab dalam 2 juz besar. [10] As-Suyuthi – karyanya berjudul “al-Muma’ fi Asb al-hadits”





Daftar pustaka
Munzier Suparta. Ilmu hadits. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.2002
Muhammad Ahmad dan M. Mudzakir. Ulumul Haits. Bandung. CV Pustaka Setia.2000.
Mudasir. Ilmu Hadis. Bandung Pustaka Setia.1999
Fathur Rahman. Ikhtishar mushthalahul hadits. Bandung. PT Alma’arif.1974
http://insansejati.com/ilmu-hadits/54-asbabul-wurud.html
http://mryahya.wordpress.com/2009/01/21/makalah-hadits/



















[1] Fathur Rahman. Ikhtishar mushthalahul hadits. Bandung. PT Alma’arif.1974.h.286
[2] Munzier Suparta. Ilmu hadits. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.2002h.38
[3] Muhammad Ahmad dan M. Mudzakir. Ulumul Haits. Bandung. CV Pustaka Setia.2000.h.63
[4] Mudasir. Ilmu Hadis. Bandung Pustaka Setia.1999. h.56
[5] Fathur Rahman.op.cit.h.287
[6] Ibid.h.288
[7] http://insansejati.com/ilmu-hadits/54-asbabul-wurud.html
[8] Op.cit.289
[9] http://mryahya.wordpress.com/2009/01/21/makalah-hadits/
[10] Op.cit.289

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar